Sinopsis: Kompetisi sengit terjadi di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Pesertanya adalah para cungpret, alias kacung kampret. Yang mereka incar bukanlah penghargaan pegawai terbaik, jabatan tertinggi, atau bonus terbesar, melainkan memenangkan taruhan untuk segera resign! Cungpret #1: Alranita Pegawai termuda yang tertekan akibat perlakuan sang bos yang semena-mena. Cungpret #2: Carlo Pegawai yang baru menikah dan ingin mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi. Cungpret #3: Karenina Pegawai senior yang selalu dianggap tidak becus tapi terus-menerus dijejali proyek baru. Cungpret #4: Andre Pegawai senior kesayangan si bos yang berniat resign demi dapat menikmati kehidupan keluarga yang lebih normal dan seimbang. Sang Bos: Tigran Pemimpin genius, misterius, dan arogan, tapi sukses dipercaya untuk memimpin timnya sendiri pada usianya yang masih cukup muda. Resign sebenarnya tidak sulit dilakukan. Namun kalau kamu memiliki bos yang punya radar sangat kuat seperti Tigran, semua u...
Peranan pemimpin dalam mencapai tujuan organisasi cukup besar, hal ini disebabkan karena pemimpinlah yang mengorganisasikan seluruh kegiatan pencapaian tujuan organisasi. Kemampuan kepemimpinan seorang pemimpin sangat menentukan kebijakan-kebijakan yang akan diambil dalam suatu organisasi, karena itu pemimpin dan kepemimpinan merupakan satu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional.
Menurut Gorda (2006:157),
pemimpin (leader) adalah orang yang membina dan menggerakkan seseorang atau kelompok orang lain agar mereka bersedia, komitmen dan setia melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya didalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya, sedangkan kepemimpinan (leadership) adalah sifat atau karakter atau cara dalam membina, menggerakkan seseorang atau sekelompok orang agar mereka bersedia, komitmen dan setia untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya untuk mewujudkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Siagian (2002),
kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain dalam hal ini para bawahannya sedemikian rupa sehingga orang lain itu mau melakukan kehendak pemimpin meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak disenangi, sedangkan menurut Edwin A. Fleishman (dalam Gibson, Ivancevich dan Donnely, 1987:263), kepemimpinan diartikan suatu usaha mempengaruhi orang antar perseorangan (interpersonal) lewat proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan.
Menurut Fiedler dalam Cahyono (2005),
kepemimpinan adalah pola hubungan antar individu yang menggunakan wewenang dan pengaruh terhadap orang lain atau sekelompok orang agar terbentuk kerja sama untuk menyelesaikan suatu tugas,
sedangkan menurut Yulk (1989),
kepemimpinan sebagai suatu proses pengaruh sosial yang sengaja dilakukan oleh sesorang terhadap orang lain untuk menstruktur segala aktifitas-aktifitas dan relasi-relasi didalam organisasi.
Menurut Robbin (2006),
kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok kearah tercapainya suatu tujuan. Kepemimpinan adalah pribadi yang dijalankan dalam situasi tertentu, serta diarahkan dalam suatu proses komunikasi kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu. Kepemimpinan menyangkut suatu proses pengaruh sosial yang sengaja dijalankan seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktivitas dan pengaruh didalam kelompok atau organisasi.
Berdasarkan rumusan-rumusan di atas dapat disimpulkan bahwa pemimpin adalah individu yang melaksanakan kepemimpinan, sedangkan kepemimpinan adalah suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh kepada bawahan dalam mencapai tujuan organisasi.
Kepemimpinan yang efektif harus memberikan pengarahan terhadap usaha-usaha semua pekerja dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Tanpa kepemimpinan atau bimbingan, hubungan antara tujuan perseorangan dan tujuan organisasi akan menjadi renggang (lemah). Keadaan ini menimbulkan situasi dimana perseorangan bekerja untuk mencapai tujuan pribadinya, sementara itu keseluruhan organisasi menjadi tidak efisien, dalam pencapaian sasaran-sasarannya.
Menurut Sondang (1994), seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila:
- Seseorang secara genetika telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan,
- Bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya, dan
- Ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang menyangkut teori kepemimpinan.
- Visioner,
- Sukses bersama,
- Mau terus menerus belajar dan diajar,
- Mempersiapkan calon-calon pemimpin masa depan.
Ajaran di dalam Islam seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat:
- Siddiq artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan,
- Fathonah artinya cerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan profesional,
- Amanah artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel,
- Tabligh artinya senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan dan komunikatif.
Menurut Siagian (2002), perilaku pemimpin memiliki kecenderungan pada dua hal yaitu hubungan dengan bawahan dan hasil yang dicapai. Kecenderungan kepemimpinan menggambarkan hubungan yang akrab dengan bawahan misal: Bersikap ramah, membantu dan membela kepentingan bawahan, bersedia menerima konsultasi bawahan dan memberikan kesejahteraan, sedangkan kecenderungan seorang pemimpin pada hasil memberikan batasan antara peranan pemimpin dan bawahan dalam mencapai tujuan, memberikan instruksi tugas (kapan, bagaimana dan hasil apa yang akan dicapai).
Dalam hubungannya dengan perilaku pemimpin ini, ada dua hal yang biasa dilakukan oleh pemimpin terhadap bawahan atau pengikutnya yakni:
perilaku mengarahkan dan perilaku mendukung.
Perilaku mengarahkan dapat dirumuskan sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi satu arah. Bentuk pengarahan dalam komunikasi satu arah ini antara lain: Menetapkan peranan yang seharusnya dilakukan pengikut, memberitahukan pengikut apa yang bisa di kerjakan, dimana melakukan hal tersebut dan bagaimana melakukannya serta melakukan pengawasan secara ketat kepada pengikutnya.
Perilaku mengarahkan dapat dirumuskan sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi satu arah. Bentuk pengarahan dalam komunikasi satu arah ini antara lain: Menetapkan peranan yang seharusnya dilakukan pengikut, memberitahukan pengikut apa yang bisa di kerjakan, dimana melakukan hal tersebut dan bagaimana melakukannya serta melakukan pengawasan secara ketat kepada pengikutnya.
Perilaku mendukung adalah sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misalnya: mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi dan melibatkan para pengikut dalam mengambil keputusan.
Sumber:
Sumber:
Robbins, S. P. 2006. Perilaku Organisasi Edisi Kesepuluh. Jakarta: PT Indeks.
Comments
Post a Comment